Gini nih rasanya pertama kali ke Jepang

Assalamualaikum,
Selamat Pagi,
Ohayo,
Good Morning,
Okay, I'm really excited to write and share about my trip (mm.. study actually) in country which is I never imagined before. YUP, Japan.

Back to my native first. Oke cek cek. Ini intro sebenernya sambil lagi mikir apa yang mau aku share (hehe).
Pertama, aku mau bagi cerita aja sih. Awalnya aku bisa belajar di Jepang itu karenaaa ya ada kesempatan di kampus aku buat Study Exchange ke Jepang selama 26 hari. Ya ceritanya gitu ya, proses gimana bisa lolosnya sih cuma modal doa dan usaha, basi kan mesti kayak gitu jawabnya, but yaa it really happen. Karena memang aku sangat tidak percaya pada diriku saat itu, dan aku juga yakin tidak ada yang bisa menjadikan ini semua kecuali ya "Doa dan Usaha". Tapi, I'm really sure that my Parent's dua is strongest one. Ah! Tambahi dengan sering baik ke siapapun even semut sekalipun, dan JUJUR sama diri sendiri. Contoh kecilnya :
1. Jangan pernah nyontek dan tanya temen pas lagi ujian. Menurutku nyontek adalah simulasi korupsi, dan tanda paling jelas bahwa seseorang yang nyontek itu tidak percaya dengan diri sendiri. 
2. Hindari copy-paste tugas (honestly i'm doing it sometimes but sure I always study after that) padahalmah kadang-kadang.
3. Jadilah baik dan tulus sama siapa-pun.
4. Banyak bersyukur dan tidak banyak mengeluh.
Sebenernya masih banyak sih faktor-faktor yang bisa banget bikin tujuan aku terwujud, tapi itu menurutku yang paling penting!

Kedua, setelah aku berhasil lolos seleksi dengan diiringi rintangan dan pelajaran. Tanggal 29 Oktober 2017 aku bareng dua temenku yang lain flight to Japan. It was my second flight after my very short solo trip to Jakarta. Singkat cerita pas aku oke ganti kita sampai Jepang ketika musim gugur, terus kita dijemput sama sensei namanya Fujiwara Sensei, OMG he gave us great first impression, tapi sedikit creepy karena efek flight kira-kira 12 jam jadi kita berpikir kita bakal diculik haha. Sensei ini asalnya dari Departemen Teknik Mesin, btw kita kemarin study nya di National Institute of Technology, Akashi College. Kampusnya mirip banget sama sekolah nobita (I'm a big fan of  Doraemon, Shinchan, Miiko!, Chibi marukochan). Kampus ini ada di Akashi, kalo naik kereta turunnya di Uozumi Station dari sana 7 menit jalan sampai deh.

Kita ketemu nih sama temen-temen baru mereka kebanyakan SA (Student Ambassador) They mostly younger than us but they never expected that we older than them, haha. Dan ini sih paling spesial soalnya kita ketemu temen-temen dari Asia as International Student: Malaysia, Singapore (roommate), Thailand, Filipina, dan Indonesia! Temen dari Indonesia sih tetep yang paling spesial namanya Mbak Eka (Bangka Belitung), Mbak Vera (Jawa Timur), Mas Yayat (Jawa Barat), Indra (Tangerang). We called 'em "Mbak Mas Peri" because they such a kindhearted person like fairy, ah I miss them. Tapi aku juga punya temen dari Jepang yang sama baiknya Kaho, Mohide, Aoto, Miyu, Akari, Fuka, Meichan, Yuyi, Soma (he is ex-SA and has same age with me), dan yang lainnya yang aku lupa namanya, if you read my blog friends, i'm really sure that all of you are the greatest person that i ever met in Japan, all of you one of my reason wants to comeback to Japan. Selain itu, aku ketemu sensei-sensei yang super baik banget dan mereka pinter of course!: Sensei Fujiwara, Sensei Nabeshima (Sensei pembimbing aku di Jepang), Sensei Miyoshi, Sensei Watanabe, Mr. John, Sensei Ishimaru (Sensei favorit!), dan Ms. Ayoko. Setelah kenalan sama temen-temen baru sisanya adaptasi sama lingkungan baru dan ngelakuin hal yang jadi tujuan utama aku ke Jepang.

Perjalanan singkat aku yang pertama ini beneran bikin aku belajar banyak hal. Yang paling terasa sih soal toleransi, syukur, dan kejujuran. 


Setelah ngejalanin hal yang tak terduga selama di sana sekarang aku bisa beropini nih mengenai toleransi, menurutku toleransi itu bukan perihal kita harus ngikutin agama dan kebiasaan apa yang berbeda dari diri aku tapi intinya adalah aku teguh sama apa yang jadi pilihan aku dalam beragama atau yang aku yakini. Kalo kita udah percaya dan bisa mengimplementasikan ayat Quran yang isinya "untukku Agamaku, dan untukmu Agamamu" pasti dunia ini aman tentram. Kenapa aku bisa beropini kayak gitu? Karena hal tersebut emang udah aku rasain. Misal kalo ada orang yang ngajak kita makan makanan haram, kita cukup bilang "Maaf saya muslim, dan saya tidak makan makanan tersebut" thats enough. Karena merekapun yang berbeda dari kita tidak akan sedikitpun memaksa kita karena manusia pasti punya sisi baik di diri mereka sendiri. Selayaknya apa yang dirasain sama diri sendiri kalo misal orang itu baik kitapun secara ga sadar pasti jadi baik juga. Jadi menurutku cukup aja percaya dan jalanin apa yang udah Allah perintah, dan berpikir kalo semua orang itu tidak ada yang mau disalahkan selayaknya diri sendiri.


Kalo tentang syukur, ini bahasan yang paling penting menurutku. Allah kan janji nih sama hambanya, kalo hambanya bersyukur maka nikmatnya pasti ditambah. Nah ini nih yang perlu diterapkan sama diri aku yang sering ngeluh dan iri sama kehidupan orang lain. Padahal Allah maha adil, Allah tidak pernah sekalipun ingin membuat hambanya menderita. YUP!!!! Totally agreed. Sebenernya kalo bukan karena syukur aku tidak akan pernah bisa punya kesempatan buat belajar di Jepang. Perlu mental dan ilmu yang kuat ya.. uang juga. Kalo misal aku tidak pernah bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang mungkin Allah tidak akan memberikan kesempatan buat aku karena mental yang baik terbentuk dari pribadi yang berusaha untuk terus bersyukur. Dengan  ngebiasain kita bersyukur sesuai janji Allah nikmat-nikmat tuh dateng secara perlahan tanpa kita sadari, makanya kenapa bersyukur itu sulit untuk diimplementasikan. Dan menurutku Jepang adalah negara yang penduduknya pandai bersyukur.


Dari syukur tersebut memunculkan kepribadian yang baik pada diri soalnya kan pikirannya terus positif makanya apa yang terjadi sama kita juga ya positif-positif aja sesuai yang Allah bilang kalo hidup manusia itu berjalan sesuai prasangkanya. Kepribadian baik ini contohnya jujur secara ga sadar pasti kalo pikirannya positif pasti ngelatih pikiran juga jadi selalu jujur pada diri sendiri dan orang lain, dan kebiasaan ini yang bikin orang lain percaya sama diri kita. Mungkin kebanyakan orang-orang hebat sekarang yang selalu memberi dampak positif selali menjunjung tinggi kejujuran. Memang sih buat jujur itu susah apalagi kalo lingkungan ga mendukung, tapi kalo kita bisa jujur di lingkungan seperti itu aku sangat yakin pasti berbuah manis pada saatnya.


Semoga aku bisa nerapin ini semua ke diri sendiri begitupun kalian semua yang udah baca tulisan ini, aamiin. 
Himeji Tour
Suspension Bridge terpanjang di dunia
Osaka Tour
Kaho. My first Japan's friend
NITAC. I built great memories here.


Asean International Student
Kyoto Tour
Umeda Sky Building






Komentar

Postingan Populer