Rindu yang Tidak Pernah Selesai
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Aku berpisah dengan belahan jiwaku, cahayaku, senyumku, tempat ternyaman dan teraman bagiku, cintaku—pada 7 Februari 2023.
Hari ketika aku tidak sadar bahwa aku telah kehilangan tempat pulangku. Kau meninggalkanku dengan senyum merekah di balik telfon.
Ada satu hal yang baru kusadari: sejak hari itu, aku seperti kehilangan diriku sendiri.
Senyumku meredup, semangatku memudar, hidupku terasa lebih sunyi—dan anehnya, dulu aku bahkan tidak menyadarinya.
Aku tidak sadar bahwa aku sedang tenggelam.
Aku tidak sadar bahwa seri di wajahku perlahan hilang.
Bukan karena orang-orang di sekitarku tidak peduli,
tetapi karena cinta pertamaku sudah tidak lagi ada di dunia ini.
Duniaku tiba-tiba gelap.
Pandanganku tak lagi jelas.
Aku seperti kehilangan arah.
Ternyata, sehancur ini rasanya dipisahkan darimu, Ma.
Ma,
mimpiku tentangmu selalu indah.
Wajahmu selalu tampak muda sepertiku, sehat sepertiku.
Aku tahu… kau pasti jauh lebih baik di tempatmu sekarang.
Tapi… ternyata aku belum siap berpisah denganmu.
Ma,
ternyata dunia bisa sesepi ini.
Maaf ya, Ma, aku masih selalu merindukanmu.
Maaf ya, Ma, jika dukaku terasa panjang.
Dadaku sering sesak.
Air mataku terlalu mudah jatuh.
Semoga kerinduan ini membuat bibirku tak pernah kering mendoakanmu.
Ma,
aku tidak menyalahkan apa pun atas perpisahan sementara ini.
Aku hanya… masih belajar memahami.
Di balik semua canda tawa kita dulu,
obrolan kita yang jarang serius,
kau selalu menyelipkan pesan-pesan berharga.
Dengan caramu yang paling sederhana dan paling hangat,
kau mendidikku menjadi manusia yang kau harapkan: lebih baik darimu.
Dan kau benar, Ma…
tentang menjadi pribadi yang tenang.
Dunia ini memang tak pernah benar-benar memuaskan.
Memang sejak awal dunia diciptakan seperti itu.
Sekarang aku tahu,
aku butuh ketenanganku, seperti tenangmu dulu, Ma.
Ma, kau tahu?
Doamu ternyata semanjur itu untuk kami.
Doamu lebih berharga dari jutaan dolar.
Doamu yang membuat kami punya keberanian untuk memilih jalan hidup kami sendiri.
Semua sikapmu—
yang bahkan tak pernah kau pelajari dari buku,
kini justru kutemukan tertulis di banyak buku.
Ma,
kau selalu yang paling cerdas bagiku, dalam segala hal.
Terima kasih ya, Ma…
sudah menjadi Mamaku, darah dagingku.
Dan jika aku diberi kesempatan memilih berulang kali,
aku akan selalu memilihmu lagi…
dan lagi.
Komentar
Posting Komentar